Militer Nigeria jadikan kata-kata Trump alasan buat tembaki demonstran

Militer Nigeria dua hari lalu memakai alasan dari kata-kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menembaki para demonstran yang melempari batu.

Senin lalu tentara melepaskan tembakan ke arah kerumunan sekitar seribu orang demonstran penganut Islam Syiah yang memblokir jalan di pinggiran Ibu Kota Abuja.

Mereka memprotes penahanan sekitar 400 muslim Syiah dan menuntut pemimpin mereka Ibrahim Zakzaky, yang ditangkap sejak 2015, dibebaskan.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah pengunjuk rasa melempar batu ke tentara bersenjata lengkap yang kemudian dibalas dengan tembakan.

Bentrokan diawali ketika massa dilarang melewati pos pemeriksaan.

Dilansir dari laman the New York Times, Sabtu (3/11), militer Nigeria mengatakan tiga orang pendemo tewas, namun diyakini angka korban jauh lebih banyak.

Amnesty International dan para tokoh demonstran mengatakan lebih dari 40 orang tewas ditembak tentara dan sedikitnya seratusan orang luka akibat kerusuhan itu.

Seorang reporter Reuters menghitung sedikitnya ada 20 mayat di tengah bentrokan itu.

Kelompok pembela hak asasi dan rakyat Nigeria marah dengan tindakan tentara. Kejadian Senin lalu mengingatkan mereka pada kerusuhan 2015 ketika tentara juga melepaskan tembakan ke arah sekitar 350 demonstran dari gerakan Islam Nigeria, organisasi Syiah terbesar di negara itu.

Dua hari lalu militer merespons kritikan banyak kalangan dengan mengunggah video di akun Twitter resmi mereka.

“Tonton dan silakan ambil kesimpulan,” kata cuitan militer.

Dalam video itu terlihat Presiden Trump pada Kamis lalu berpidato dengan mengatakan lemparan batu bisa dianggap sebagai senjata api jika dilemparkan ke tentara AS di perbatasan negara mereka.


korban tewas dari kelompok gerakan islam di nigeria Afolabi Sotunde/Reuters

“Kami tidak akan membiarkan hal semacam itu,” kata Trump. “Mereka melempari tentara kita dengan batu dan tentara kita membalas.”

Militer Nigeria kemudian menghapus cuitan itu tanpa alasan setelah memicu perdebatan di media sosial.

Ketika batu dibalas peluru

Di kawasan selatan Nigeria yang penduduknya kebanyakan menganut Kristen, Trump dipuja-puja karena kerap mengeluarkan pernyataan keras terhadap ekstremisme Islam.

Juru bicara militer Nigeria, John Agim, mengatakan mereka mengunggah video pidato Trump itu sebagai tanggapan atas kritikan Amnesty International.

“Kami merilis video itu untuk mengatakan Presiden Trump bilang batu adalah senjata yang sama dengan senapan, lagi pula siapa Amnesty International?” kata juru bicara militer.

“Apa yang dipakai Daud ketika membunuh Goliat? Jadi batu adalah senjata,” ujar John Agim.

“Tentara kami luka-luka. Kaum Syiah juga membakar kendaraan kami, jadi apa maksudnya Amnesty International?”

Ibrahim Musa, juru bicara kelompok Syiah, mengatakan Seninlalu pasukan keamanan menolak para pendemo melewati pos pemeriksaan. Dia mengatakan 13 pendemo tewas ketika bentrokan.

“Batu tidak sebanding dengan peluru,” kata dia. “Penggunaa kekerasan itu tidak proporsional. Presiden Trump bukan contoh yang baik. Bahkan di Amerika banyak yang mengkritik dia. Saya kaget militer menjadikan Trump sebagai contoh,” kata Musa.

Sejauh ini belum ada komentar dari Gedung Putih soal unggahan video dari militer Nigeria.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri menanggapi tindakan militer Nigeria menembaki demonstran dengan mengatakan ‘AS mendukung upaya regional untuk memerangi terorisme dan melindungi warga sipil dengan mengerahkan berbagai cara, termasuk diplomasi, bantuan luar negeri, dan bantuan keamanan.’

Gerakan Islam di Nigeria dipandang sebagai ancaman bagi warga Islam Sunni di sebelah utara. Kelompok Syiah di Nigeria tidak mengakui konstitusi dengan alasan tidak melindungi minoritas.

Para pejabat Nigeria sebagian besar menilai kelompok ini berupaya mendirikan republik Islam yang terinspirasi dari Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *